

Bapak Itu Menyimpan Kami (1)

 

 

ACT ONE

Bagian Satu

Sore itu Nungki masih sibuk di depan surat kabar kesayangannya. Mata-
nya menelusuri kata demi kata yang tertulis di halaman tengah. Alis
gadis itu mengerenyit.
"Ma, lihat, ada seorang lagi gadis yang dinyatakan hilang."
Seorang wanita setengah baya, yang terlihat sibuk memintal benang
sulam, menoleh dan tersenyum, "Ah, mungkin hanya kawin lari atau
semacamnya. Lagipula kejadian seperti tu sudah banyak terjadi bela-
kangan ini, bukan?" Nungkin menatap wajah mamanya dan mengangguk, "Iya
juga, sih. Tapi ini kan sudah yang kelima kalinya sejak bulan lalu."
Sang ibu kembali sibuk dengan pekerjaannya, hanya menggumam. "Bagaima-
napun pasti ada alasan yang rasionil atas hilangnya gadis-gadis itu.
Sudahlah, itu kan urusan polisi."
Nungki menutup koran di tangannya dan mendekati ibunya, "Bagaimana
kalau aku yang hilang?" Sang ibu tertawa dan mengelus kening anak
semata wayangnya, "Jangan bilang begitu. Kata orang itu pamali."
Nungki tersenyum dan beranjak menuju dapur.
Ruang dapur itu terlihat sederhana, hanya beberapa rak di atas tempat
cuci piring, sebuah rice cooker, dan kulkas tua di sudut ruangan.
Nungki dan ibunya memang hidup sederhana, apalagi sepeninggal kepala
rumah tangga mereka yang meninggal akibat serangan kanker paru-paru.
Hal itu pulalah yang selalu membuat Nungki merasa antipati pada pero-
kok.
Nungki mengambil termos air panas dan mengisi dua mug kosong di hadap-
annya. Benaknya masih menyimpan rasa penasaran akan kehilangan perem-
puan-perempuan itu. Mungkin aku terlalu banyak membaca cerita detek-
tif, pikir Nungki lalu tertawa sendiri.

Suasana kampus ramai seperti hari-hari aktif lainnya. Nungki seperti
biasa pula menghabiskan waktunya di ruang baca, suatu kegemarannya
yang membuatnya jauh terkucil dari pergaulan anak kampus.
Sedang asiknya membaca, mendadak terdengar sebuah sapaan dari bela-
kangnya, "Hai Nungki, sedang apa?" Nungki menoleh dan melihat Deni
sudah membungkuk di belakangnya, menjuluran kepala melewati bahunya.
Nungki menjauh dengan gusar, sementara Deni hanya terkekeh, "Dih,
begitu saja takut. Aku kan bukan drakula." Tapi Nungki tidak mengacuh-
kannya.
"Nungki," ucap Deni setelah mengambil tempat di sebelah gadis itu,
"bagaimana kalau nanti aku yang mengantar kamu pulang?"
Nungki memandang dengan sebal, ini sudah yang kedua kalinya minggu
ini, "Sori, aku naik angkutan saja."
Deni menghela nafasnya, mendadak wajahnya tampak lesu, "Mengapa sih
kamu selalu menghindar dariku. Memangnya aku salah apa?" Sekejap
Nungki merasa kasihan juga, "Bukan salah apa-apa, kok. Aku memang
anaknya begini."
"Baiklah," ucap Deni kemudian, seraya bangkit berdiri, "mungkin suatu
saat nanti kamu akan lebih ramah padaku." Nungki tersenyum dan meman-
dang pemuda itu berlalu dan keluar dari ruang baca.
Sebenarnya Nungki juga menyukai Deni, dari cara bicaranya yang ceplas
ceplos dan gayanya yang kata anak jaman sekarang `funky'. Tapi Nungki,
tetap lebih suka berkonsentrasi pada studi dan dunianya sendiri.

Sore itu Nungki sudah di sudut jalan sambil menunggu mobil angkutan
datang. Mendadak perhatian gadis itu tersita pada seorang lelaki cina
yang sibuk mempertahankan tas coklat di tangannya dari dua orang
pemuda bertampang beringas. Nungki melihat ke sekellilingnya dan
menyaksikan orang-orang di pinggir jalan yang hanya menonton tanpa
bertindak apa-apa. Nungki merasa jantungnya berdebar menyaksikan
adegan itu, dan tanpa disadarinya mulutnya berteriak lantang, "Polisi!
Polisi!!" Kedua pemuda bertampang beringas itu langsung terlihat panik
dan meninggalkan si bapak yang masih terengah-engah. Seseorang di
belakang Nungki berbisik, "Waduh, Non. Kok sampeyan berani sekali,
kedua orang itu anak sekitar sini yang sudah biasa mengompasi orang.."
Nungki melirik ke arah sumber suara dan memandang sinis, "Tapi bukan
begitu caranya kalau ada copet." Sementara bapak yang nyaris kehi-
langan barangnya tadi sudah menghampiri Nungki dengan senyum di bi-
birnya.
"Terima kasih, Dik. Untung tadi Adik berteriak." Nungki tersenyum dan
mengangguk, "Ah, tidak apa-apa, Pak." Lelaki itu menatapnya sejenak
seolah memperhatikan, lalu menolehkan wajahnya ke seberang jalan,
"Saya lihat tadi Adik menunggu sendirian di sini. Bagaimana kalau saya
mengantarkan Adik pulang? Kendaraan saya ada di sana."
Nungki melirik ke arah pandangan si bapak dan melihat sebuah sedan
berwarna hitam metalik. Nungki menggelengkan kepalanya, "Wah, terima
kasih, Pak." Si bapak dapat menangkap pancaran keragu-raguan itu dari
gadis di depannya. Dengan tersenyum bapak itu mengangguk, "Baiklah,
tapi terima kasih sekali lagi." Nungki ikut tersenyum.

Sesampainya di rumah Nungki menceritakan kejadian itu pada ibunya,
sang ibu tersenyum dan dalam hati merasa bangga, "Bagus, kamu sudah
bertindak benar." Nungki juga merasa senang dalam hatinya. Hari itu ia
jadi pahlawan.

Bagian Dua

Hari Minggu itu Nungki bangun kesiangan, sehingga ia mendapati dirinya
sudah sendirian di rumah. Ibunya sudah berangkat ke toko benang yang
dikelolanya. Nungki merasa bingung harus makan apa, tapi akhirnya
Nungki memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar, membeli bahan-bahan
masak dan memasak makan siangnya sendiri.
Pasar tradisional di daerahnya terletak tak jauh dari rumahnya, hanya
lima menit berjalan kaki. Suasana siang itu cukup panas, walau mata-
hari belum tinggi. Jalanan terlihat sepi, hanya beberapa pembantu
kesiangan yang searah dengannya menuju ke pasar.
Nungki menikmati suasana itu. Matanya memandangi pepohonan yang
menghijau rindang sepanjang jalan, mendadak sesuatu menabraknya dari
belakang, tubuhnya terjatuh dan tulang punggungnya terasa sakit seka-
li. Nungki menoleh dan melihat seorang bapak turun dari mobil.
"Aduh, maaf. Saya tdak sengaja, tadi saya sedang menelpon. Aduh,
aduh," si bapak terlihat panik. Nungki mengamati dengan seksama bapak
itu, dan ia langsung teringat bapak yang kemarin nyaris kecopetan.
Bapak itu juga mengenalinya, "Ya ampun. Ini kan Non yang kemarin.
Aduh, apa yang telah saya lakukan?" Nungki berusaha bangkit berdiri,
namun punggungnya terasa begitu nyeri. Si bapak langsung membungkuk
dan membantunya berdiri, "Kali ini Adik harus mau saya tolong." Nungki
merintih kesakitan saat bapak itu memapahnya masuk ke dalam mobil.

"Saya bawa ke rumah sakit saja ya, Dik," ucap si bapak di dalam mobil.
Tapi Nungki menggeleng, "Sudahlah, Pak. Antar saya ke rumah saja."
Bapak itu mengangguk, wajahnya masih terlihat panik, "Oh, baiklah.
Rumahnya di mana?" Nungki mengacungkan tangannya, dan mobil yang
mereka naiki langsung melaju.

Si bapak membantu Nungki turun dari mobil dan memapahnya ke teras
rumah. "Nah, apa lagi yang bisa saya lakukan?" tanya si bapak seraya
menyeka peluhnya. Nungki tersenyum geli, "Sudahlah, Pak. Mungkin Bapak
lebih baik pulang saja."
"Ah, jangan begitu, dong," ucap si bapak dengan nada khawatir, "bagai-
manapun kan saya yang salah."
"Sudahlah, Pak. Saya tidak apa-apa kok."
"Benar saya disuruh pulang?" tanya si bapak.
Nungki memandang kakinya yang lecet di beberapa tempat ketika terjatuh
tadi dan merintih lagi, "Iya."
"Benar, nih?" mendadak Nungki menangkap nada yang aneh dari si bapak.
Nungki mengangkat kepalanya dan memandang si bapak. Mendadak bapak itu
menutupi wajahnya dan mulai menangis.

"Mengapa semua orang menyuruh saya pergi? Mengapa?"
Dan sebuah pukulan melayang ke wajah Nungki.

Bagian Tiga

"Deni, kamu ngga ikutan ke mall?"
Deni menoleh ke arah sahabat-sahabatnya dan menggelengkan kepalanya,
"Thanks. Gua ada kerjaan, mungkin nanti malam saja." Beberapa saat
kemudian Deni sudah menstarter mobilnya dan menuju ke alamat yang
tertera di sobekan kertas kecil dalam genggamannya.

Sepeminuman teh kemudian Deni sampai di mulut sebuah jalan yang tampak
lengang. Perlahan ditekannya pedal gas moblnya sembari matanya membaca
nomor setiap rumah yang dilaluinya. Mendadak mobilnya membentur sesua-
tu. Deni terkejut saat melihat mobilnya menumbuk sebuah mobil, pemuda
itu langsung melompat turun dan memeriksa bemper mobilnya terlebih
dahulu.
"Waduh, Mas. Kalau jalan hati-hati dong. Untung tidak rusak."
Deni mengangkat kepalanya dan menatap wajah bapak di hadapannya.
Pemuda itu menggaruk kepalanya dan segera meminta maaf, "Maaf, Pak.
Tadi saya meleng." Si bapak menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam
mobil. Deni memandang hingga mobil itu menghilang di tikungan. Dengan
mengeluh pada dirinya sendiri Deni melangkah ke arah mobilnya, dan
saat itu ia melihat nomor yang tertera di sisi pagar tepat di sebelah
ia berdiri.
"Ini dia," bisik Deni girang pada dirinya sendiri. Setelah menekan
tombol alarm mobil, Deni melangkahkan kakinya memasuki pekarangan
rumah itu.

Deni menunggu dan mengetuk lagi untuk yang ketiga kalinya. Masih saja
tidak ada jawaban.
"Mau mencari siapa, Mas?" Suara itu mengejutkan si pemuda yang lang-
sung membalikkan tubuhnya. Deni melihat seorang wanita setengah baya
yang menenteng sebuah keranjang besar berisi benang jahitan.
"Mau ketemu dengan Nungki, Bu. Ibu ini ibunya?"
Ibu itu tersenyum dan mengangguk, "Adik ini siapa?"
"Oh," ucap Deni gugup, "saya ini teman kuliahnya."
"Anaknya tidak ada?" tanya si ibu seraya mengeluaran segepok kunci
dari saku bajunya. Deni menggelengkan kepalanya.
"Ayo, masuk dulu," ucap si ibu kemudian setelah membukakan pintu,
"mungkin masih keluar ke pasar atau ke kios majalah depan."
Deni mengangguk dan mengikuti si ibu masuk ke dalam rumah.

Bagian Empat

Nungki perlahan membuka matanya. Pandangannya yang nanar membentur
dinding berwarna krem. Kepalanya terasa pening dan sakit. Nungki
mencoba mengangkat tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia mendapati kedua
lengan dan kakinya terikat ke sisi tempat tidur yang terbuat dari kayu
ukiran. Gadis itu merasakan kepanikan yang melanda hatinya, dilihatnya
sekitar ruangan dimana ia berada. Ruangan itu sepertinya merupakan
kamar tidur yang pernah digunakan oleh seorang perempuan. Nungki bisa
mengetahuinya dari meja rias yang dipenuhi perhiasan wanita dan sebuah
boneka beruang di atasnya. Selebihnya, ruangan itu terlihat bersih dan
rapi, sepertinya rajin dibersihkan setiap hari.
Nungki mencoba mengingat dengan jelas apa yang sudah terjadi pada
dirinya. Terlintas ingatan tentang seorang bapak yang menabraknya,
mengingat itu Nungki bisa merasakan nyeri di punggungnya. Dan kemudian
ingatannya kembali saat pukulan keras itu membuat semuanya menjadi
gelap. Langsung saja Nungki merasa ketakutan. Pandangannya liar mene-
lusuri setiap sudut ruangan. Sejenak kemudian, gadis itu menjerit
sekeras mungkin, "Tolong!"
Mendadak pintu kamar terbuka.

Seorang bapak, yang tak lain adalah bapak yang tadi memukulnya, membu-
ka pintu kamar, tersenyum dan melangkah masuk.
"Jadi sudah bangun? Saya pikir kamu akan tidur seharian." Nungki
memandang dengan hati berdebar tak karuan. Rasa-rasanya ia ingin
menangis saat itu juga. Bapak itu melangkah melewati kamar tidur dan
menuju jendela lalu menarik kain korden yang menutupi jendela itu.
Nungki terhenyak saat melihat terali besi yang memagari jendela itu.
Langit di luar terlihat gelap, Nungki tidak bisa mengira-ngira pukul
berapa saat itu.
Si bapak membalikkan tubuhnya dan menatap Nungki. Pandangannya ramah,
tapi Nungki justeru merasakan ketakutan itu menjalari seluruh urat
syarafnya. "Tenang," ucap bapak itu seraya melangkahkan kakinya mende-
kat dan mendudukkan tubuhnya di sebelah Nungki. Gadis itu mencoba
menjauh, "Jangan."
Si bapak menghela nafasnya, "Maaf, saya hanya mencoba bersikap ramah."
Tangan bapak itu terulur. Nungki memejamkan matanya dan mulai mena-
ngis, tapi gadis itu jadi merasa heran saat merasa ikatan yang membuat
sakit pergelangan tangan dan kakinya terlepas satu demi satu. Nungki
membuka matanya dan melompat turun dari tempat tidur, si bapak hanya
memandang sambil terdiam.
Nungki mencoba memutar gagang pintu, tapi terkunci. Gadis itu memukul-
mukul daun pintu dan menangis sejadinya. Setelah beberapa saat usaha-
nya tidak berhasil, Nungki menjatuhkan dirinya dan terisak. Sebuah
lengan memegangi pundaknya, "Kamu istirahat saja malam ini. Nanti saya
akan bawakan kamu makanan." Bapak itu mengangkat tubuh Nungki yang
sudah terasa lemas dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.
Nungki memalingkan wajahnya ke bantal dan menangis. Ingatan tentang
gadis-gadis yang hilang itu menghantui otaknya. Dari balik bantal
gadis itu bisa mendengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup lagi
diiringi suara `klik' yang menandakan pintu itu kembali terkunci.
Dengan hati tak karuan dan punggung yang nyeri Nungki terlelap.

Bagian Lima

Bapak berbaju coklat muda dengan embel-embel di pundaknya itu hanya
mengangguk-angguk seraya tetap mengetikkan huruf-huruf lewat mesin tik
tua di hadapannya.
"Baiklah. Mungkin ini di luar kebiasaan untuk menangani orang hilang
kurang dari tiga puluh enam jam. Tapi dengan kasus perempuan hilang
akhir-akhir ini, masalah ini menjadi rentan. Kami akan berusaha sebisa
mungkin menemukan puteri Ibu. Apabila ada perkembangan baru dari kami,
kami akan memberitahu Ibu. Begitu pula dengan Ibu, jika ada sesuatu
yang terlupa, hendaknya kami menjadi pihak yang tahu terlebih dahulu.
Untuk sementara kami harap berita ini tidak keluar dulu sebelum ada
perintah lebih lanjut, untuk menjaga terjadinya keributan masal."
Deni memandang muak pada polisi itu, yang seolah memandang semuanya
ringan. Pemuda itu lalu merangkul pundak ibu di sebelahnya dan memapah
ibu itu berdiri seraya berbisik, "Kita pulang, Bu. Mungkin Nungki
hanya pergi ke rumah temannya."
Sang ibu masih tenggelam dalam tangisnya.

Di luar, mereka berdua dikejutan oleh seorang bapak berusia tiga
puluhan tahun dengan rompi hijau tua yang menghampir mereka tergesa-
gesa. "Maaf. Apa Ibu ini yang melaporkan anaknya hilang tadi siang?"
Deni langsung mengerutkan alisnya dan menyentak, "Pak, kalau bapak
wartawan, mohon jangan ganggu ibu ini." Bapak itu berubah kikuk,
"Maaf. Nama saya Wardi, saya salah seorang sersan di kepolisian ini.
Dan kebetulan saya salah seorang yang bertugas menyelesakan kasus ini.
Mungkin ada yang bisa saya bantu?" Deni langsung merubah raut wajah-
nya, namun suaranya tetap ketus, "Temukan saja anak Ibu ini dan Anda
akan cukup menolong."
Sersan Wardi hanya menatap dengan putus asa saat kedua orang itu
melangkah keluar dari kantor kepolisian.

"Sudahlah, Bu. Nungki akan kembali. Saya yakin itu."
Sang ibu tetap tenggelam dalam tangisnya. Deni sejenak merasa bingung,
pemuda itu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan
pukul setengah sebelas malam.
"Bu, saya pulang dulu. Apa ibu tidak apa-apa saya tinggal sendiri?"
Sang ibu menggeleng dan berbisik lirih setengah terisak, "Terima kasih
ya, Nak."
Deni mengangguk. Sebenarnya ia tidak enak meninggalkan ibu itu sen-
diri. Tapi bagaimanapun juga Deni masih punya keluarga di rumah yang
menunggu kepulangannya.
Dengan galau Deni meninggalkan rumah itu. Mendadak di kepalanya ter-
lintas sebuah ingatan, tentang sebuah mobil yang tadi siang ditabrak-
nya persis di depan rumah Nungki. Deni memejamkan matanya, mencoba
mencari secercah ingatan. Dan yang bisa diingatnya hanya mobil sedan
berwana hitam metalik. Sedan Timor berwarna hitam metalik. Dengan plat
nomor.... Deni tak bisa mengingatnya. Pemuda tu bergegas melajukan
mobilnya menuju warung terdekat.

"Maaf, Bu. Apa ada orang yang punya sedan Timor berwarna hitam metalik
di sekitar sini?" Deni bertanya dengan nada sopan. Ibu penjaga warung
memikir sejenak, lalu bertanya pada bapak-bapak lain yang sedang minum
kopi di warungnya. Beberapa saat kemudian ibu itu kembali menatap Deni
dan berkata, "Wah. Tidak ada tuh Dik yang punya sedan hitam di daerah
ini." Ini dia, pikir Deni dengan rasa lega karena sudah menemukan
sebuah petunjuk.
"Terima kasih Bu," ucap pemuda itu dan melangkah keluar dari warung.
Besok giliran tetangga Nungki. Semoga saja tidak ada yang kedatangan
tamu bersedan hitam. Masih menyusun rencana, Deni melajukan mobilnya
menuju jalan pulang. Pemuda itu mencoba mengingat-ingat raut wajah
bapak yang ditabraknya tadi siang. Sebuah mobil Datsun hijau membun-
tutinya dari belakang.

Bagian Enam

Nungki terbangun dan mencium bau makanan di ruangan itu. Nungki membu-
ka matanya dan merasakan kegelapan menyelimutinya. Gadis itu mengang-
kat tubuhnya dan meraba tombol lampu. Setelah lampu menyala, Nungki
bisa melihat sepiring nasi goreng dan segelas air putih di atas meja
rias. Mendadak gadis itu bsa merasakan perutnya yang berbunyi lapar.
Hati-hati gadis itu mengambil piring nasi goreng di atas meja dan
menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Dengan perut kenyang maka
pikiran akan tenang, demikian ibunya selalu menasehatinya. Nasi goreng
itu terasa lezat, atau karena Nungki belum makan apapun sejak siang.
Sementara makan, gadis itu mengamati meja rias di hadapannya. Matanya
terantuk pada sebuah foto gadis yang sedang tersenyum dengan latar
belakang pegunungan bersalju. Gadis itu manis sekali. Nungki merasa
sesuatu yang aneh pada wajah gadis itu, tapi ia tak tahu mengapa.
Nungki mengangkat foto itu dan sesuatu terjatuh ke atas meja rias.
Nungki mengambil benda itu dan melihatnya dengan seksama. Ternyata
sebuah kertas yang terlipat rapi. Nungki meletakkan piringnya di atas
meja dan membuka lipatan kertas itu.

VIKA, SWISS 1996 - UNTUK PAPA

Nungki mengira-ngira dalam hatinya. Apakah bapak itu yang dipanggil
'papa'? Lalu kemana penghuni kamar ini? Apakah gadis manis bernama
Vika ini? Perlahan dikembalikannya lipatan kertas itu ke balik foto
dan memakan kembali nasi goreng itu sampai habis.
Setelah merasa kenyang, Nungki mulai meneliti setiap sudut kamar.
Gadis itu menghela nafasnya kecewa saat mendapati pintu terkunci dan
terali yang begitu kuat menempel di tembok jendela. Di luar jendela
terlihat langit yang kelam dan pagar tanaman yang menjulang hampir dua
meter.
Gadis itu melirik ke lemari baju dan membuka lemari itu. Lagi-lagi
Nungki kecewa karena hanya beberapa setel baju yang terlihat mahal dan
baju dalam wanita di dalam lemari itu. Setelah menutup lemari, Nungki
mulai memeriksa laci meja rias. Lagi-lagi yang ditemukannya hanya
barang tak berguna, sebuah peniti, pita panjang dari nylon, dan sebuah
kartu nama. Nungki membaca nama yang terterta pada kartu tersebut.

PT. MEDICAL WASTIKA, ltd.
JOE HARTANTO WIJAYA
Production Manajer
Telp. (031) 5941718 - 0811314447 (hunting)

Dengan membaca kartu itu, Nungki menarik kesimpulan bahwa bapak itu
memang yang bernama Joe. Hati-hati Nungki memasukkan kembali kartu
nama itu ke dalam laci dan merapikan benda-benda lain yang telah ia
serakkan. Apa yang harus kulakukan sekarang, pikir gadis itu dalam
hati. Aku tak boleh putus asa dan terkurung di sini. Mendadak terde-
ngar suara erangan yang menyerupai hewan disembelih. Nungki melompat
kaget dan merasa bulu kuduknya meremang. Suara apa itu? Nungki melang-
kah ragu ke arah daun pintu dan menempelkan telinganya. Sayup-sayup
gadis itu bisa mendengar suara seperti seseorang sedang membelah kayu.
Gadis iu merinding, perlahan ia melangkah mundur dan membaringkan
tubuhnya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian suara erangan
itu kembali terdengar. Nungki menutupi telinganya dengan bantal dan
berusaha tidur. Tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari.
Sebelum terlelap, Nungki membayangkan ibunya dan samar-samar ia meli-
hat wanita itu menangis memikirkannya. Tanpa terasa air mata menetes
di pipi gadis itu. Gadis itu memejamkan matanya dan mulai berdoa, "Ya
Tuhan. Aku ingin pulang." Beberapa saat kemudian ia tertidur.

Bagian Tujuh

"Tidak ada ya, Pak. Maaf mengganggu."
Bapak berkepala botak itu mengangguk ramah. Deni meninggalkan rumah
itu dengan perasaan masygul, Pemuda itu bingung apa yang harus diper-
buatnya. Sejak pukul enam pagi ia sudah mulai mencoba menghampiri
semua rumah di daerah tempat Nungki tinggal. Tapi hasilnya tetap
nihil. Dalam hati ia mengeluh pada dirinya sendiri, mengapa ia harus
sebingung itu. Tapi bagaimanapun, sejak ia mengantar ibu Nungki ke
kantor polisi, ia sudah teribat dalam masalah itu. Dan secara pribadi,
Deni menikmati ketegangan yang merasuki hatinya.
Bapak berkepala botak barusan adalah penghuni rumah terakhir di kawa-
san ini. Dengan mendengus kesal Deni memutuskan untuk mengunjungi ibu
Nungki.
"Dik, tunggu sebentar."
Deni menoleh ke arah suara dan melihat seorang bapak berkumis dengan
rompi hijau tua turun dari mobil Datsun berwarna hijau dan menghampi-
rinya dengan tergesa-gesa.
"Loh, Pak Sersan. Ada apa, Pak?" tanya Deni setelah melihat orang yang
menhampirinya itu. Si bapak, yang tak lain adalah Sersan Wardi menatap
wajahnya dengan penuh selidik.
"Adik sendiri ngapain ke sini?" Deni menjadi gugup `ditembak' sedemi-
kian rupa, "Saya hanya mencoba membantu, Pak."
Sersan Wardi menggelengkan kepalanya, "Lha saya juga berusaha memban-
tu. Dan menurut insting saya Adik pasti sudah punya petunjuk. Begitu
pula saya. Dan sebagai warga yang baik. Saya harap Adik memberitahukan
pada saya apa yang Adik ketahui."
Deni tersenyum geli mendengar kata-kata si Sersan yang seperti kereta
api. "Baiklah, lagipula saya sudah merasa bingung harus kemana. Tapi
lebih baik kita cari tempat yang enak untuk bicara. Bagaimana kalau di
rumah itu, Pak?" ucap Deni seraya menunjuk ke arah sebuah rumah yang
bukan lain adalah rumah Nungki.

"Jadi memang tidak ada kerabat Ibu yang berwajah seperti yang disebut-
kan Adik ini?" tanya Sersan Wardi pada Ibu Nungki. Sang ibu mengge-
lengkan kepalanya dengan sikap tegang, "jangan-jangan itu orangnya,
Pak." Deni merasakan ketegangan itu dan menikmatinya, "Benar, Pak.
Seluruh orang di kawasan ini sudah saya periksa tapi tidak ada juga
yang mengaku berhubungan dengan orang itu."
Sersan Wardi mengambil sikap berpikir sejenak, "Baiklah. Saya akan
mencoba menghubungi kantor polisi. Sayang Adik tidak mengetahui plat
nomor mobil itu."
"Maaf, Pak," ucap Deni dengan nada kecewa, "saya juga tidak menduga-
nya."
"Ibu," lanjut Sersan Wardi, "saya mohon Ibu tenang saja di rumah.
Kalau Ibu punya kerabat lain, saya anjurkan Ibu untuk ke sana dulu
selama beberapa hari. Jadi ada yang menemani Ibu."
Ibu Nungki mengangguk lemah. Deni menatap ke arah Sersan Wardi dengan
pandangan berharap, "Pak, saya mohon diikutkan dalam kasus ini."
Sersan Wardi tersenyum, "Lha iya dong, kan Adik yang melihat
wajahnya." Deni langsung berseri. Petualangan detektifnya yang pertama
akan segera dimulai. Lelaki cina dengan sedan Timor hitam. Aku akan
mendapatkanmu, tekad Deni dalam hati. Nungki, aku akan menolongmu.

Bagian Delapan

Nungki terbangun setelah matahari menghangatkan wajahnya dari balik
jendela yang tidak terhalangi korden. Gadis itu menggeliat, sejenak
berharap dirinya akan terbangun di kamarnya sendiri. Ternyata ia masih
tetap di ruangan yang sama. Kamar wanita tempat di mana ia disekap
oleh bapak yang telah ditolongnya dan yang telah menabraknya kemarin,
sebelum menculiknya. Gadis itu mengira-ngira apa yang akan terjadi
hari ini. Nungki berusaha menenangkan perasaannya. Gadis itu mulai
meneliti lagi seluruh isi kamar, berharap ada sesuatu yang bisa meno-
longnya keluar dari mimpi buruk ini. Darahnya tersirap saat mendengar
suara kunci pintu dibuka.

Si bapak memandang gadis yang menatap gelisah itu dengan tersenyum,
"Selamat pagi. Ini saya bawakan makanan. Lebih baik kamu segera makan,
nanti saya antar kamu ke kamar mandi."
Nungki menatap baki makanan itu dan lagi-lagi kecewa karena tidak ada
garpu di atas bubur ayam. Gadis itu meraih baki yang disodorkan dan
mulai makan setelah si bapak memandangnya dengan pandangan memerintah.
"Saya senang karena kamu gadis yang tegar. Gadis lain biasanya akan
panik dan berteriak-teriak bila menghadapi situasi seperti ini," bapak
itu berkata sambil tetap tersenyum. Dalam hati Nungki merinding,
berarti ada gadis lain yang pernah disekap di kamar ini.
"Joe," sapa Nungki memberanikan dirinya. Bapak itu tertawa, "Kamu
sungguh gadis yang cerdas dan pemberani. Yap kamu boleh panggil saya
Joe." Nungki mengangguk. Joe memperhatikan gadis itu makan dengan
lahap. Mendadak Nungki mendengar bapak itu terisak.

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menghentikan makannya.
Joe mengusap air mata di pipinya, tersenyum pada Nungki, "Mengapa kamu
berhenti makan?" Nungki kaget melihat senyuman aneh itu dan langsung
meneruskan makannya.

Joe memegangi lengan gadis itu dan menuntunnya keluar kamar. Nungki
memperhatikan koridor rumah itu dengan seksama. Lorong itu terlihat
suram tapi bersih. Ada sebuah lemari kecil dan lukisan seseorang di
atasnya. Nungki memperhatikan lukisan itu yang ternyata serupa dengan
foto gadis di atas meja rias. Masih dengan perasaan aneh yang meling-
kupi hatinya saat melihat wajah gadis itu. "Itu anak saya, Vika," Joe
mengejutkannya, sebelum menyeret gadis itu berlalu. Nungki mulai
bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kemana gadis dalam foto itu?

Joe membawa gadis itu ke depan sebuah pintu berwana keperakan.
"Ini kamar mandi. Kamu mandi, di dalam sudah ada baju untukmu. Saya
akan menunggu di sini." Nungki membuka pintu dan melangkah masuk.
Sejenak gadis itu kagum akan kemewahan kamar mandi itu. Sebuah bathtub
berisi air yang lebar dan berukir indah. Wastafel dan lemari obat.
Nungki mengamati sekelilingnya dan tidak menemukan satupun benda
keras. Di atas kakus yang tertutup ada sepotong baju wanita. Nungki
mengambil baju itu dan merasakan kelembutan sutera dari kainnya.
Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup rapat, Nungki melepas
bajunya dan masuk ke dalam bathtub. Air dalam bathtub itu terasa
hangat. Perlahan Nungki mulai mendapatkan kesegarannya kembali. Gadis
itu nyaris terlelap ketika suara ketukan lembut terdengar dari pintu.
"Jangan lama-lama."

Bagian Sembilan

Ruangan lima kali lima itu terasa pengap dengan asap rokok yang mengi-
tari lanngit-langit. Deni memandangi bapak-bapak berpakaian preman di
hadapannya yang saling bercanda satu sama lain. Benar-benar berbeda
dengan `kesibukan seperti di TV' yang selalu dibayangkannya selama
ini. Lama-kelamaan Deni menjadi bosan. Pemuda itu bangit dari kursinya
dan menelusuri sisi tembok yang dipenuhi artikel dan tulisan-tulisan
tangan.
"Percuma membaca di situ," suara seseorang mengejutkannya. Ternyata
Sersan Wardi sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum sembari
menyodorkan sebuah map berwarna kuning. Beberapa orang bapak yang tadi
asik berbincang langsung bersikap hormat dan melangkah keluar dari
ruangan. Deni mendudukkan dirinya kembali dan membuka map yang sudah
diletakkannya di atas meja. Sersan Wardi duduk di tepi meja dan mulai
menyalakan rokoknya.
"Oh, ya," Sersan Wardi menyela, "jangan terkejut kalau kamu melihat
isi map itu. Mungkin sesuatu akan merisaukan kamu."
Deni merasa jantungnya berdebar. Perlahan diambilnya amplop putih yang
terselip di dalam map dan mengambil isinya.
"Astaga! Ini....ini...." Deni tergagap seraya memandangi foto-foto di
tangannya satu persatu.
"Iya, sekarang Adik tahu bukan bagaimana pentingnya kasus ini. Ini
bukan seperti di TV yang selalu ada petunjuk maksimal. Dan kali ini
adalah sesuatu yang nyata yang sedang kita hadapi."
Deni memandangi gadis-gadis dalam foto itu. Menaruhnya satu persatu di
atas meja. Yang terakhir adalah foto Nungki yang diserahkan oleh
ibunya kemarin. Deni menghela nafasnya dalam-dalam melihat ketidakwa-
jaran yang tampak nyata di depan matanya. "Ini penculikan berantai
dengan target yang jelas dan terencana," desah pemuda itu lirih dengan
nada seperti detektif partikelir serial action. Sersan Wardi menghem-
buskan asap rokok dari mulutnya. Suasana sejenak menjadi hening.
"Kelima gadis itu hilang secara beruntun sejak satu setengah bulan
yang lalu. Dan yah, kami sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun.
Yang jelas bagi kami, hanya bahwa semua ini terencana, walaupun motif
dan modusnya sama sekali belum jelas. Oleh karena itu keterangan yang
Adik berikan pada saya tadi pagi sangat berguna bagi kami."
Deni menganggukkan kepalanya, "Lalu sekarang bagaimana, Pak."
"Kami akan berusaha mencarinya. Jangan khawatir."
"Bagaimana tidak khawatir, Pak?" sergah Deni gusar, "bagaimana kalau
mereka tidak kembali sebelum kita menemukan pelakunya? Lagipula kita
kan tidak tahu apa yang diperbuat pelaku itu pada mereka?" Sersan
Wardi tersenyum penuh makna, "Tenang, kita akan menangkap mereka."
"Dengan apa, Pak?" tanya Deni ingin tahu.
"Dengan bantuan Adik tentu saja."
Sersan Wardi tetap tersenyum. Sementara Deni termangu-mangu.

Bagian Sepuluh

Joe mengantar Nungki sampai ke kamar dan meninggalkan gadis itu kemba-
li sendiri setelah mengunci pintu. Nungki mengelap rambutnya yang
masih basah dengan handuk yang telah disediakan Joe padanya di kamar
mandi. Gadis itu beranjak ke depan kaca. Memandangi wajahnya di cer-
min. Mendadak gadis itu menjerit tertahan saat merasakan sesuatu yang
aneh di cermin.
"Tidak," desah gadis itu lirih saat melihat wajahnya sendiri. Nungki
mengambil foto di atas meja rias dan mengamati foto itu dengan seksa-
ma.

Dan ia bisa melihat kemiripan gadis itu dengannya.

"Ya Tuhan," desah gadis itu meletakkan foto itu kembali di atas meja
rias, "apa maksud semua ini? Siapa lelaki itu sesungguhnya? Dan siapa
pula gadis dalam foto ini?" Beberapa saat kemudian Nungki tenggelam
dalam tangisnya. Baru kali ini ia merasa begitu ketakutan setelah
berusaha memberanikan dirinya selama dua puluh empat jam terakhir.
"Aku harus keluar dari sini!" bisik gadis itu pada dirinya sendiri.
Perlahan ia menyeret tubuhnya menelusuri kembali setiap sudut kamar
itu, mencoba mencari apapun yang bisa membantunya keluar. Saat itulah
ia melihat sesuatu yang janggal di bawah tempat tidur.

Nungki mengulurkan lengannya dan meraih sesuatu yang lengket. Nungki
menarik benda itu yang ternyata sebuah isolasi yang terlepas. Dan
sesuatu terjatuh ke lantai. Nungki memandang benda yang terbungkus
kertas minyak itu dan memberanikan diri membukanya. Ternyata di dalam
bungkusan kertas minyak itu terdapat sebuah buku kecil ukuran 10 x 15
cm dengan gambar Hello Kitty pada sampulnya. Perlahan Nungki membuka
halaman pertama dari buku itu. Di situ tertuliskan :

VIKA CHRISTINA WIJAYA
`dilarang membuka tanpa seijin pemilik,
termasuk papa dan mama!!'

dan sebuah foto gadis kecil berambut dikuncir dua yang sedang terse-
nyum di depan sebuah mobil Citroen berwarna kuning. Nungki menghela
nafasnya dalam-dalam dan membuka halaman pertama.

"16 January 1993

Halo Kitty,
Salam kenal, saya pemilik kamu yang baru. Dan kali ini kamu tahu, saya
akan menjadikan kamu teman bermain saya. Karena kamu tahu bukan, kalau
aku ini seorang anak yang tidak punya teman bermain sama sekali.
Mereka membenci saya, saya rasa. Kamu tahu? Anak-anak itu, siapa lagi.
Mereka lebih suka tidak mengacuhkan saya dan mengasingkan saya, karena
kata mereka sih saya kurang asik diajak bergaul, tertutup dan sombong
mentang-mentang bergelimang dalam kemewahan. Apa sih kemewahan itu?
Bukankah saya hanya menginginkan seorang teman bermain? Mana enak
sendirian di rumah sebesar ini, lagipula papa dan mama selalu tidak
berada di rumah. Kamu tahu apa kata orang Jawa? "mbencekno"

Sampai di situ Nungki memandang foto gadis di atas meja rias, lalu
tersenyum. Dalam hati ia membayangkan perasaan si gadis saat mengucap-
kan kata `mbencekno' itu. Lalu Nungki meneruskan membaca. Entah menga-
pa kegelisahannya berkurang ditindih perasaan ingin tahu.

"Jadi saya ingin menjadikan kamu teman saya. Kamu mau kan? Pasti mau.
Apa kamu nggak kasihan pada saya? Tapi sudahlah, yang ini salam kenal.
Besok kamu harus menemani saya sebelum tidur."

Nungki menghabiskan dua halaman pertama buku itu dengan penuh pera-
saan. Menutupnya, dan tanpa sadar gadis itu mulai menangis. Mungkin
gadis itu seperti dirinya. Sejak kecil tidak pernah bergaul dengan
orang lain. Tapi gadis itu berbeda dengannya. Gadis itu mau bergaul
dengan orang lain, hanya saja tidak ada seorangpun yang mau berteman
dengannya. Tapi dirinya, dirinya tidak mau bergaul dengan orang lain
karena kehendaknya, tapi justeru orang lain yang datang padanya.
Sampai di situ Nungki teringat pada Deni, satu satunya yang bisa dekat
dengannya, yang selalu mengajaknya pulang bersama, dan yang selalu
ditolaknya pula. Dalam hatinya Nungki berfikir, seandainya hari itu
Deni mengantarnya pulang mungkin semua ini tidak akan terjadi pada
dirinya. Tapi Nungki sadar, bahwa penyesalan bukan sesuatu yang posi-
tif. Lalu ia membuka kembali buku itu dan membaca halaman ketiga.
Disitu tertulis :

15 JANUARY 1980 Hari lahir Vika
15 JANUARY 1993 Hari lahir Kitty

"I went outside to find a friend, but could not find one there. I went
outside to be a friend, and friends were everywhere!"

Nungki merasa air matanya mulai mengalir lagi.

Bagian Sebelas

"Bagaimana kalau begini?" Lelaki gondrong dengan puntung rokok di
bibirnya itu menggumam tanpa menoleh. Sersan Wardi menjulurkan kepa-
lanya untuk bisa melihat dengan lebih jelas monitor di hadapan si
lelaki gondrong. "Bagus," ucap Sersan Wardi sambil tersenyum dan
menepuk pundak si lelaki. Deni membaca tulisan di layar monitor itu,

"Perkembangan berita dari kasus menghilangnya gadis-gadis selama satu
setengah bulan ini. Seorang pemuda berinisial D (20) telah mengaku
melihat seseorang mencurigakan yang diduga sebagai tersangka pada
waktu yang bertepatan dengan menghilangnya seorang mahasisiswi sebuah
perguruan tinggi negeri yang berinisial N (20). Sersan Wardi yang
dikonfirmasi di kantor polisi membenarkan adanya saksi mata. "Kami
sudah bisa memperkirakan pelaku yang menggunakan sedan Timor berwarna
hitam gelap itu. Kepada masyarakat kami himbau untuk ikut berwaspada
terhadap keamanan lingkungannya."

Dan berikutnya merupakan gambaran ciri-ciri pelaku, dan beberapa
cerita tambahan berdasar pengakuan dari pemuda berinisial D yang
bersifat menyudutkan pelaku. Dan astaga, foto Deni terpampang dengan
jelas di sudut bawah artikel.
Deni mengerenyitkan alisnya, "Apakah baik begini Pak? Bukankah ini
akan menimbulkan geger masal? Dan foto saya?" Sersan Wardi tersenyum
dan menatapnya, "Si pelaku juga akan ikut geger, bukan?"
"Tujuan ini semua apa, Pak?" tanya Deni mulai merasa curiga.
"Apalagi? Kan supaya pelakunya mencari kamu. Hanya kamu bukan yang
bisa memberikan kesaksian memberatkan padanya?"
Deni menghempaskan tubuhnya di kursi. Pemuda berambut gondrong terke-
keh dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

[end of ACT ONE]

 

Pengirim: tejo (tejo@uksw.edu)

 

Penilaian Pembaca: Belum Dinilai

 

     
<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>